Gerimis Senja Kartini

Jingga menggoda
Menggelora merangkul cakrawala
Sedang senja tergesa-gesa
Oleh semburat wajah masam yang kian tenggelam nan di barat sana.
Hari membuta.

Sore ini jangkrik tampil lebih awal
Bersama orkestra kegalauan
Memulai pentas mini
Dan gerimis mulai mengiringi.

Kita kenal anak hujan
Sebagai wadah sesal dan kenang
Juga mengerti air mata langit
Adalah waktu yang sendu untuk tersedu.

Kartini,
Apakah kau berduka hari ini?

 

Kertosari, April 2017.

12.10 am

Oleh ketukan waktu,
jam dinding memutar degub jantungmu.

Indah sekali.
Biar aku pulang

barangkali sebentar.

Tarik selimut dan beberapa khayal diselingi lagu.

Semoga kau sudi melipir ke mimpi penuh rindu ini.

Sayang,

kodratmu secuil puisi, tanganku pena kusam itu.

Kita menari bersama sebelum tuan putri pulang oleh larut malam yang makin terpetangi.

Lagi

Kau boleh marah buat gerimis dan hujan, mereka tertawa juga menerjangmu, di jalanan aspal tempatmu tersedu menangis oleh hasil ujian semester yang menghianati proses.

Lagi, kau mulai dendam di hari-hari setelah itu.

Tanyakanlah, perihal puisi-puisiku yang mandek bercerita tentangmu. 

Carikan kabar tentangku, di penjaja koran bawah jembatan layang. Siapa tahu, barangkali mereka mengetahui, dimana jasadku terhenti.

Nyatanya, kau dan aku adalah sewadah nyawa dan tubuh.
Ungaran, 23 Maret 2017.

Tiga belas.

Tiga belas kau hitung mundur pada kalender ruang tengah rumah singgahmu yang kau rapal dengan bibir pucat-biru.

Tiga belas kau susun pada piring-piring nasib yang retak karena ubun-ubunmu semakin botak dan kehilangan otak.
Tiga belas kau tulis sebagai surat kabar kepada :
Doa yang kau ibadahkan terhadap kopi malam yang kau seduh sebagai tanda matamu bersedih
Doa yang kau pujikan pada bir yang kau tuangkan ke dalam gelas-gelas gaduh dan suasana mendidih.
Akhirnya kau sadar,
Tiga belas hanyalah jawaban dari pertanyaan yang kau ulaskan di tiap semester genap dan nilai yang ganjil.

Kode

Lima menit lalu

Dan sepuluh menit yang semakin lalu pada baris pemberitahuanku

Sepasang gambar hati menjamu

Kau ulas jempol lusuhmu pada pencitraanku di jejaring yang seolah kita selalu bertemu.

Kau buka layar ponsel yang nyala tak redup meski tertimpa silaunya siang

Menilik galeri yang berjalan seolah alami pada beranda maya

Dan seolah aku seorang pembuka pameran atau pementasan

Yang kau acungi ibu jari pertama.

Ah,

Aku terlalu naif.

Terlalu percaya kode hayalku sendiri.

Bapak

Kau umbar salam kemerdekaan, perdamaian, dan kesejahteraan

Tapi tak satupun mereka datang menyampaikan sapa dan mencium tangan.

Anak-anakmu, yang tidur di bawah ranjangmu

Terlalu sibuk menonton kambing liar yang merumput pada belukar tak berakar

Berbunga juga berduri

Pada pagar gubuk megahmu.